9.
Diagnosis
Menurut
Mitayani (2009), diagnosis di tegakkan berdasarkan :
1) Wawancara
a. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu
· Kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi sebelum hamil
· Kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi sebelum hamil
· Kemungkinan
ibu mempunyai riwayat pre eklamsia pada kehamilan terdahulu
· Biasanya
mudah terjadi pada ibu yang obesitas
· Ibu
mungkin pernah menderita ginjal kronis
2) Riwayat kesehatan sekarang
a) Ibu merasakan sakit kepala di daerah
frontal
b) Terasa sakit di ulu hati/nyeri epigastrium
c) Gangguan virus : pandangan mata
kabur, skotoma dan diplopia
d) Mual dan muntah, tidaka da nafsu
makan
e) Gangguan serebral lain misal:
refleks tinggi dan tidak tenang
f) Edema pada ekstremitas
g) Tengkuk terasa berat
h) Kenaikan berat badan mencapai 1 kg
seminggu
Penanganan
Preeklamsia ringan menurut Rukiyah (2010), dapat dilakukan dengan dua cara
tergantung gejala yang timbul yakni :
1. Pre Eklamsia Ringan
a) Penatalaksanaan rawat jalan pasien
preeklamsia ringan, dengan cara : ibu dianjurkan banyak istirahat
(berbaring,tidur/miring), diet : cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam; pemberian sedativa ringan : tablet phenobarbital 3×30 mg atau diazepam 3×2
mg/oral selama 7 hari (atas instruksi dokter); roborantia; kunjungan ulang
selama 1 minggu; pemeriksaan laboratorium: hemoglobin,
hematokrit, trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi
ginjal.
b) Penatalaksanaan rawat tinggal pasien
preeklamsi ringan berdasarkan kriteria : setelah duan minggu pengobatan rawat
jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala preeklamsia;
kenaikan berat badan ibu 1kg atau lebih/minggu selama 2 kali berturut-turut (2
minggu); timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia
berat.
Bila setelah satu minggu perawatan
diatas tidak ada perbaikan maka preeklamsia ringan dianggap sebagai preeklamsia
berat. Jika dalam perawatan dirumah sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu
dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi
baru dipulangkan. Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat jalan.
Perawatan
obstetri pasien preeklamsia menurut Rukiyah (2010) adalah :
a) Kehamilan preterm (kurang 37 minggu) : bila desakan darah mencapai normotensi
selama perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm; bila desakan darah turun
tetapi belum mencapai normotensi selama perawtan maka kehamilanya dapat
diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
b) Kehamilan aterm (37 minggu atau
lebih) : persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau
dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada tanggal taksiran persalinan
c)
Cara persalinan: Persalinan dapat dilakukan secara spontan bila perlu
memperpendek kala II.
- Pre eklamsia Berat
Ditinjau
dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklamsia berat selama
perawatan maka perawatan dibagi menjadi : 1). Perawatan aktif yaitu kehamilan
segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medicinal; 2) Perawatan
konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medicinal.
1) Perawatan aktif, sedapat mungkin
sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal
assessment yakni pemeriksaan non stresstest (NST) dan ultrasonografi (USG) dengan indikasi salah satu atau lebih
yakni :
a) Ibu: Usia kehamilan 37 minggu atau
lebih, adanya tanda – tanda impending eklamsia, kegagalan terapi konserfatif
yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan tekanan darah
atau setelah 24 jam perawatan medicinal, ada gejala – gejala status quo (tidak
ada perbaikan)
b) Janin: Hasil fetal assasemen jelek
(NST dan USG) adanya tanda IUGR
c) Hasil laboratorium: Adanya HELLPsyndrome
2) Pengobatan medisinal pasien PEB
dilakukan di RS dan atas instruksi dokter yaitu segera masuk RS, tirah baring
miring ke satu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, reflek patela
setiap jam, infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL
(60 – 125 cc/jam) 500cc berikan antasida : diet cukup protein, rendah
karbohidrat lemak dan garam, pemberian obat anti kejang MgSO4 diuretikum tidak
diberikan kecuali bila ada tanda – tanda edema paru, payah jantungkongestif
atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/IM.
3) Antihapertensi diberikan bila
tekanan darah sistolis lebih 180 mmHg (diastol lebih 110 mmHg atau MAP lebih
125 mmHg sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105 mmHg bukan
kurang 90 mmHg karena akan menurunkan perfusi plasenta dosis antihipertensi
sama dengan dosis antihipertensi
pada umumnya.
4) Bila dibutuhkan penurunan tekanan
darah secepatnya diberikan obat–obat antihipertensi parenteral (tetesan
kontinyu) catapres injeksi. Dosis yang biasa dipakai 5
ampul dalam 500 cc cairan infus atau pres disesuaikan dengan tekanan darah.
5) Bila tidak tersedia antihipertensi
parenteral dapat di berikan tablet anti hipertensi secara sublingual diulang
selang 1 jam maksimal 4 – 5 kali. Bersama dengan awal pemberian sublingual maka
obat yang sama mulai diberikan secara oral.
6) Pengobatan jantung jika ada
indikasinya yakni ada tanda – tanda menjurus payah jantung diberikan
digitalisasi cepat dengan cedilanid D.
7) Lain – lain : Konsul penyakit
dalam/jantung, mata, obat – obat anti piretik diberikan bila suhu rectal 38,5ºC
dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc
IM, antibiotik diberikan atas
indikasi. Diberikan ampicilin 1 gr/ 6 jam/ IV/hari, anti nyeri bila penderita
kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus dapat diberikan petidin HCL 50 –
75 mg sekali saja, selambat lambatnya 2 jam sebelum janin lahir.
11. Pencegahan
Pada umumnya timbulnya eklamsia dapat dicegah atau frekuensinya
dapat dikurangi. Usaha-usaha untuk menurunkan frekuensi eklamsia adalah :
1) Meningkatkan
jumlah balai pemeriksaan antenatal dan mengusahakan agar semua wanita hamil memeriksakan diri sejak hamil muda.
2) Mencari
pada tiap pemeriksaan tanda-tanda pre eklamsia dan megobatinya segera bila
ditemukan
3) Mengakhiri
kehamilan sedapat dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila dirawat
tanda – tanda pre eklamsia tidak juga dapat hilang. (Rukiyah, 2010)
12. Komplikasi
Komplikasi terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi dibawah ini yang bisa
terjadi pada pre eklamsia dan eklamsia (Rukiyah, 2010) :
1) Solusio
Plasenta
Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre eklamsia
Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre eklamsia
2)
Hipofibrinogenemia
Biasanya terjadi pada pre eklamsia
berat. Oleh karena itu dianjurkan untuk pemeriksaan kadar fibrinogen secara
berkala.
3) Hemolisis
Penderita dengan PEB kadang – kadang
menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenel dengan ikterus. Belum
diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel hati atau destruksi
sel darh merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada autopsy
penderita eklamsia dapat menerangkan ikterus tersebut.
Komplikasi ini merupakan penyebab
utama kematian maternal penderita eklamsia.
5) Kelainan Mata
Kehilangan penglihatan untuk
sementara yang berlangsung sampai seminggu dapat terjadi. Perdarahan kadang –
kadang terjadi pada retina. Hal ini merupakan tanda gawat akan terjadi
apopleksia serebri.
6) Edema Paru –
Paru
Paru – paru menunjukkan berbagai
tingkat edema dan perubahan karena bronkopnemonia sebagai akibat aspirasi.
Kadang – kadang ditemukan abses paru – paru.
7) Nekrosis Hati
Nekrosis periportal hati pada pre
eklamsia/eklamsia merupakan akibat vasopasmearteriole umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklamsia, tetapi juga dapat
terjadi pada penyakit lain. Kerusakan sel – sel hati dapat diketahui dengan
pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim–enzimnya.
8) Sindroma HELLP (Haemolisys elevated liver
enzymes dan low palatelet)
Merupakan sindrom kumpulan gejala
klinis berupa gangguan fungsi hati, hepatoselular (peningkatan enzim hati [SGOT,SGPT], gejala subyektif [cepat lelah, mual, muntah, nyeri
epigastrium]). Hemolisis akibat kerusakan membrane eritrosit oleh radiakl bebas
asam lemak jenuh dan tak jenuh. Trombositopenia (,150.000/cc), agregasi (adhesi
trombosit did inding vaskuler), kerusakan tromboksan (vasokonstriktor kuat), lisosom.
9) Kelainan Ginjal
Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus
yaitu pembengkakan sitoplasma sel endothelial tubulus ginjal tanpa kelainan
struktur yang lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria samapi
gagal ginjal.
10) Komplikasi Lain
Lidah tergigit, trauma dan fraktur
karena jatuh akibat kejang – kejang pneumoni aspirasi dan DIC (disseminated intravascular coagulation)
11) Pada Janin
Menurut Rukiyah (2010), komplikasi
pre eklamsia pada janin adalah :
Janin yang dikandung ibu hamil pre
eklamsia akan hidup dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen dibawah normal.
Keadaan ini bisa terjadi karena pembuluh darh yang menyalurkan darah ke
plasenta menyempit, karena buruknya nutrisi pertumbuhan janin akan terhambat
sehingga akan terjadi bayi dengan berat lahir rendah. Bisa juga janin
dilahirkan kurang bulan (prematuritas), komplikasi lanjut dari prematuritas
adalh keterlambatan belajar, epilepsy, serebral palsy, dan masalah pada
pendengaran dan penglihatan, bayi saat dilahirkan asfiksia, dsb.
DAFTAR PUSTAKA
1. Adsence. 2012. http://www.jurnalskripsi.net/hubungan-paritas-dan-usia-ibu-dengan-kejadian-pre-eklampsia-berat-peb/2012/4873/ (Diakses tanggal 06 April 2012 )
3. Arikunto, Suharsini.2010. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta:Rineka Cipta
4. Bobak, Lowdermik, jansen. 2004. Buku
Ajar keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
5. Boyle, Maureen. 2007. Buku Saku
Bidan Kedaruratan Dalam Persalinan. Jakarta: EGC
6. Chapman, Vicky. 2006. Asuhan
Kebidanan Persalinan Dan Kelahiran. Jakarta: EGC
7. Cuningham, F. Gary.Dkk. 2005.
Obstetri Williams. Jakarta : EGC
8. Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Riset
Keperawatan Dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta:Salemba Medika
9. Manuaba, Candradinata.. 2008 . Gawat
Darurat Obstetri Ginekologi Dan Obstetri Ginekologi Social Untuk Profesi Bidan.
Jakarta : EGC
10. Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan
Maternitas. Jakarta: Salemba Medika
11. Mochtar, rustam. 2007. Sinopsis
Obstetri. Jakarta : EGC
12. Notoatmodjo,Soekidjo. 2005.
Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta
13. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
15. Sujiyatini, dkk. 2009. Asuhan
Patologi Kebidanan. Jakarta: Nuha Medika
16. Suyanto dan Ummi Salamah. 2009.
Riset Kebidanan Metodologi Dan Aplikasi. Jogjakarta:Mitra Cendekia
17. Woro, Dyah. 2012. http://alumni.unair.ac.id/detail.php?id=59119&faktas =Kedokteran (Diakses tanggal 03
April 2012 )
18. Winkjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu
Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
19. Yeyeh, Rukiyah. 2010. Asuhan
Kebidanan 4 (Patologi). Jakarta: CV Trans Info Media
tulisan ini juga dapat dibaca pada blog saya yang lain (klik)..
File ini terdapat 11 file jurnal (pdf) dan 7 page
tulisan ini juga dapat dibaca pada blog saya yang lain (klik)..
File ini terdapat 11 file jurnal (pdf) dan 7 page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar